Beginilah hamparan sajadah yang ada di masjid kita, terhampar tanpa ada yang merasa memiliki. Dia terhampar begitu saja tak ada yang mau meperdulikannya. Baru dipakai jika ada aktifitas-aktifitas besar, sementara di hari biasa sangat sedikit. Masih untung ada yang adzan, tapi sangat feomenal jika yang adzan di masjid hanya sebuah rekaman muadzin dalam sebuah kaset atau VCD, yah demikian penulis melihat realitas di beberapa masjid mu’adzin berganti dengan rekaman kaset dan VCD, Benar-benar luar biasa ummat ini, dan bukan satu atau dua masjid yang begini.
Lalu kemanakah sebenarnya orangnya, apakah tidak ada lagi orang-orang yang peduli untuk sekedar menggemakan adzan, memanggil dan memberitahukan bahwa waktu untuk mengistirahatkan raga dengan sholat sudah tibah? Semua sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, cuek bahkan masa bodoh.
Kalau duluh kita berlomba-lomba untuk menjadi seorang mu’adzin bahkan rebutan mic, kita sebut saja begitu hanya untuk sekedar menggemakan ‘adzan, tapi sayang sekarang tidak lagi. Di masjid hanya bersisa orang-orang tua rentah dengan suara nyaring sekaligus vals dan tak enak didengar, akhirnya muncul cara kreatif putar kaset mirip studio rekaman. Adzan yang sebenarnya pun nyaris hilang dari kehidupan kita. Itupun masih untung masih mau menggemakan adzan meskipun dengan cara kreatif, karena ada banyak masjid-masjid megah yang masih berat hati menyuarakan adzannya. Lagi- lagi kita harus bertanya kemana orangnya ?
Kasihan ummat ini, anak-anaknya disuguhkan dengan tayangan kartun menarik ketika jam sholat tiba, tanpa ada perhatian dari orang tuanya, karena memang orang tuanya pun tidak mengerti apa-apa. Para pemudanya disibukkan dengan acaranya masing-masing termasuk berdendang ria dengan gitar favouritnya hingga clubbing dan dugem ria, mencari angin katanya. Orang tuanya pun tidak mau kala gilanya, bahkan lebih para. Maka wajar jika perhatian perhatian orang tua terhadap anaknya nyaris tak terdengar. Termasuk juga sang kakek, meskipun rambutnya sudah pada memutih tapi tingkahnya tak ubah dengan remaja 20 tahunan, tidak lagi memikirkan apa yang akan dibuat untuk masa depannya. Maka wajar jika masjid sepi, sunyi dan senyap mirip gedung tempat penangkaran walet dan ternak kelelawar. Sementara sang kiai, ulama serta tokoh agamanya yang seharusnya menjadi tuntunan lebih suka disibukkan dengan perihal politis, debat kusir tentang bid’ah dan sekelumit perkara kepentingan pribadinya, ummatnya tidak terurus dan tak tahu arah harus mengikuti siapa. Tontonan pun menjadi tuntunan, sementara tuntunan berubah menjadi tuntunan.
Maka beruntunglah jika di sekitar kita masih ada masjid yang masih rela menggemakan adzannya,. Mungkin inilah salah satu tanda-tanda hari akhir seperti yang pernah diceritakan baginda Rosulullah. []CRT-MK

