Strategi atau Strategis ??

Pada dasarnya keadilan dan kesejahteraan itu akan terwujud manakalah dimulai dengan cara-cara yang adil dan bijaksana pula. Karena itu sesuatu yang teramat mustahil dan hanya bohong belaka jika keinginan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan itu dicapai dengan cara-cara yang tidak adil dan bahkan sampai kepada tingkat mendzolimi, Nau’dzubillah tsummah na’udzubillah. Demikianlah kondisi real di tengah masyarakat kita, baik di tararan paling tinggi pemerintahan yakni presiden hingga pada tataran paling bawah masyarakat menengah dan kecil. Apa sebetulnya yang terjadi? Sebuah tanda tanya besar yang jawabannya ada pada diri pelakunya masing-masing. Mungkinkan kita menjadikan tuhan-tuhan baru, sehingga boleh kita sebut saja membangun arena perpolitikan sebagai ajang pertarungan antar tuhan.

Dengan cara apapun dapat ditempuh, termasuk pihak penguasa yang sedang enjoy duduk mendengkur di kursi basah seraya membusungkan dada dengan nada kesombongannya. Bisa jadi sebuah cara dengan memanfaatkan kekuasaan untuk melanggengkan estafet kepentingan atau bahkan sejenisnya bisa jadi. Sekali lagi, demikianlah realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Tidak terkecuali pada golongan intelektual muda (katanya), kita sebut saja mahasiswa. Ketika posisi strategis dijadikan sebagai benteng untuk hanya mempertahankan kepentingan sebuah kelompok dengan mengatasnamakan kepentingan bersama, dan intelektual muda ini dijadikan sebagai mesin politik pihak yang berkepentingan, meskipun pada prakteknya bertradisikan mahasiswa. Sekali lagi, keintelektualan seorang mahasiswa pun yang selama ini dikenal bersih dan lurus harus tercoreng.

Tidak hanya sebatas itu, ketika pada peristiwa bersejarah penentuan siapa yang benar-benar didukung oleh mahasiswa untuk memimpin, sistem order baru pun ikut dipraktekkan dan berkibar. Sehingga penggelembungan suara pun muncul di sana sini, sungguh benar-benar tragis bangsa kita. Lebih tragisnya lagi ini dilakukan oleh kalangan intelektual (mahasiswa) itu sendiri. Padahal aturan-aturan “mereka”-lah yang berkompeten menanganinya, sehingga segala pelanggaran batas kampanye pun dianggap biasa, terlebih lagi dengan penggelumbungan kuota suara “sungguh pemilihan umum yang benar-benar mengesankan yang tidak layak dijadikan contoh oleh kita yang masih awam ini”. Ada apa gerangan? Entah apakah itu sebuah strategi politik pihak yang berdaulat atau orang-orang yang di sekelilingnya.

Yang lalu biarlah berlalu, semoga keinginan yang didambahkan tidak sekedar menjadi retorika politik belaka (omong doank), akan tetapi perubahan yang lebih baik harus segera dibuka jalannya. Selamat untuk yang akan berkuasa dan yang akan mengakhiri kekuasaanya. Semoga yang diceritakan selama ini tidak hanya menjadi legenda atau sampai pada tahapan mendongeng belaka. Mari kita simpan tuhan kita masing-masing… jangan biarkan tuhan-tuhan baru bermunculan dan ikut serta. [] rdk_mk

Say your words